Beranda blog

KAMU Gelar Nonton ‘One Piece: RED’ Bersama Anak Yatim

0

Ternate,- Komunitas Anime Maluku Utara (KAMU) menggelar Nonton Bareng (Nobar) film ‘One Piece: RED’ bersama sejumlah anak yatim.

Nobar tersebut sekaligus menyambut penayangan film ‘One Piece: RED’ yang sempat dikabarkan tidak tayang di bioskop XXI Jatiland Ternate.

Ketua KAMU, Fitrah Akbar kepada sentra menyampaikan, acara nonton bareng ini adalah bentuk syukur karena ‘One Piece : RED’ akhirnya tayang di Ternate, meski sempat terjadi polemik.

Penayangan pertama di Ternate baru dilakukan pada hari ini 23 September. One Piece : RED’ sendiri sudah resmi diluncurkan di seluruh Indonesia sejak 21 September lalu.

Menurutnya, kegembiraan para penggemar One Piece penting untuk dirayakan bersama anak yatim agar kegembiraan yang sama juga  bisa dirasakan oleh mereka.

” Hari ini, hadir 30 orang teman-teman dari Komunitas Anime Maluku Utara (KAMU), bersama15 orang adik-adik yatim,” ungkap Fitrah. Minggu (23/9).

“Kami, Komunitas Anime Maluku Utara kedepan tidak hanya akan menggelar nonton bareng film-film anime yang tayang di Bioskop tetapi juga akan menggelar event-event terkait anime maupun kegiatan-kegiatan sosial,” tutupnya.

Reporter : Yus
Editor : Redaksi

Penggemar One Piece Kecewa, Komunitas Anime Maluku Utara Siap Boikot XXI Jatiland Ternate

0

Ternate,- Penayangan film ‘One Piece: RED’ serentak di berbagai bioskop di Indonesia pada 21 September 2022, disambut hangat para pecinta anime.

Seperti diketahui, One Piece adalah salah satu serial anime populer yang penayangan filmnya sangat dinantikan para penggemarnya. Animo penonton ‘One Piece: RED’ sejauh ini sudah sangat tinggi. Bahkan sejumlah komunitas pecinta One Piece di berbagai daerah siap mengadakan nonton bareng di Bioskop daerahnya masing-masing.

Namun, para penggemar One Piece Kota Ternate tampaknya harus bersiap kecewa. Karena satu-satunya bioskop XXI di Mall Jatiland Ternate kabarnya tidak ikut menayangkan film tersebut.

Kekecewaan tersebut disampaikan oleh Fitrah Akbar, Ketua Komunitas Anime Maluku Utara (KAMU). Menurut Fitrah XXI Jatiland Ternate terkesan tidak mampu memenuhi kebutuhan penggemar film di Maluku Utara, khususnya para pecinta anime.

“Sampai harii Ini belum ada jadwal tayang film One Piece : RED di XXI Jatiland Ternate, bisa saja Film tersebut tidak ditayangkan, sebagian anggota KAMU bahkan ada yang menyuarakan untuk boikot XXI Jatiland Ternate,” jelas Fitrah. Kamis (22/9).

“Kita tidak tahu sampai kapan teman-teman yang tergabung di KAMU sabar menantikan penayangan film ‘One Piece: RED’ di XXI Jatiland Ternate, tapi bisa saja gerakan aksi memboikot Jatiland akan dilakukan dalam waktu dekat,” pungkasnya.

Reporter : Yus
Editor : Redaksi

Dukung Nurkholis, Musisi Ternate Gelar Seni Jalanan untuk Kebebasan

0

Ternate,- Musisi jalanan di Kota Ternate menggelar panggung terbuka bertemakan “seni jalanan untuk kebebasan” di Taman Film Benteng Oranje.

Kegiatan yang dimulai sekitar pukul 16.10 WIT ini merupakan bentuk dukungan terhadap Nurkholis Lamaau, redaktur cermat.co.id yang mengalami intimidasi beberapa waktu yang lalu.

Dukungan tersebut dipublikasikan melalui layar videotron dengan menampilkan kronologi singkat terkait intimidasi, kekerasan, hingga ancaman yang menimpa Nurkholis.

Ancu, salah seorang musisi jalanan, mengatakan ini merupakan rangkaian dari aksi dukungan terhadap Nurkholis, yang sudah dilakukan sebelumnya.

“Seni jalanan untuk kebebasan ini memang konsepnya dibuat terbuka, agar publik bisa ikut menyaksikan,” ujar Ancu kepada wartawan, Selasa (13/9).

Rencananya, aksi seni jalanan untuk kebebasan tersebut bakal digelar setiap hari. “Lokasinya di Taman Film Benteng Oranje dan beberapa tempat lainnya,” jelas Ancu.

Sebelumnya, opini satire berjudul ‘hirup debu batubara dapat pahala’ yang ditulis Nurkholis, tayang di rubrik perspektif cermat.co.id pada Selasa (30/8).

Opini tersebut merespon pernyataan Wawali Tidore, Muhammad Sinen, saat memberi sambutan dalam pembukaan pertandingan domino di Kelurahan Rum Balibunga, Tidore Utara, pada Minggu (28/8).

Buntut dari opini tersebut, Nurkholis kemudian didesak oleh Usman, kerabat Wawali Tidore untuk menghapus tulisannya, pada Rabu (31/8) pukul 00.10 WIT.

Selain diminta menarik tulisannya, Nurkholis juga mengalami pemukulan oleh Arianto Maradjabessy, ponakan wawali, pukul 09.00 WIT. Kejadian tersebut terjadi di ruumah mertua Nurkholis dan disaksikan sang istri serta adik iparnya.

Atas perbuatannya, Arianto dalam sidang di Pengadilan Negeri Soasio beberapa waktu lalu telah dijatuhi hukuman 1 bulan, dengan masa percobaan 3 bulan.

Reporter : Yus
Editor : Redaksi

BEM Unkhair Kecam Kekerasan Terhadap Jurnalis

0

Ternate,- Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Khairun (Unkhair) mengecam tindakan kekerasan dan intimidasi yang dialami redaktur cermat.co.id Nurkholis Lamaau.

Wakil Presiden BEM Unkhair, Tuti Saman, dalam pernyataannya mengatakan, apapun bentuk kekerasan tentu sangat tidak dibenarkan oleh konstitusi.

“Apalagi ini berkaitan dengan tulisan atau artikel. Seharusnya artikel dibalas artikel, begitulah panggung demokrasi bekerja,” ujar Tuti. Sabtu (10/9).

Ia menjelaskan, seorang jurnalis ketika menulis sesuatu tentu sudah berdasarkan pertimbangan yang matang. Jika tulisannya dianggap subjektif dan keliru, maka ada saluran yang bisa dikoreksi, seperti hak jawab atau melalui laporan secara etik.

“Jangan langsung bertindak dengan seenaknya saja. Kami tentu mengecam tindakan-tindakan alergi kritik seperti ini,” jelasnya. 

Tuti menambahkan, pihaknya akan ikut terlibat melakukan konsolidasi melawan kekuasaan yang anti kritik dan alergi terhadap demokrasi.

“Kekuasaan seperti ini tidak saja menutup keran demokrasi, tapi ikut menutup suara-suara orang kecil yang ingin menyampaikan kebenaran,” pungkasnya.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, Nurkholis sempat mengalami intimidasi dari Usman, salah seorang kerabat Wakil Wali Kota Tidore, M. Sinen, pada Rabu malam, 31 Agustus 2022. Nurkholis diminta menghapus artikel yang berjudul “Hirup Debu Batubara Dapat Pahala”.

Keesokannya pada Kamis, 1 September 2022, Nurkholis kemudian mengalami tindakan kekerasan dari Arianto, ponakan Wakil Wali Kota Tidore. Namun, setelah ia datang membuat laporan di Polres Tidore, justru diduga mendapat perlakuan intimidasi dari Wakil Wali Kota Tidore

Sumber : BEM Unkhair

Tabbayun (Untuk Bung Olis)

0

Oleh : Ardiansyah Fauzi (Novelis)

Suatu hari, Rasulullah SAW sedang duduk dengan beberapa sahabat, salah satunya Abu Hurairah. Kemudian Nabi berkata “Siapa yang mengucapkan La ilaha ilallah insha Allah masuk surga”. Abu Hurairah begitu senang mendengar itu, dan bergegas menuju ke pasar, hendak menyampaikan kabar itu kepada khalayak ramai. Ditengah perjalanan, Abu Hurairah bertemu dengan Sayyidina Umar ra. Ia kemudian bertanya kepada Abu Hurairah, mengapa kau berjalan tergesa-gesa? Ia lalu menjelaskan maksudnya hendak ke pasar, mau menyampaikan kabar yang baru saja ia dapat dari Rasulullah.

Tapi Sayyidina Umar ra. langsung mencegatnya, jangan kau sampaikan kabar ini, nanti akan ada yang salah tafsir sehingga akan mengabaikan ibadah-ibadah lainnya. Sambil memegang tangannya, Sayyidina Umar mengajaknya kembali pada Rasulullah SAW.

Padahal itu kabar berita baik, tapi karena sangat berpotensi disalahpahami banyak orang, sebaiknya jangan disampaikan kepada khalayak ramai. Sebab kemampuan orang memahami sebuah berita berbeda-beda, meskipun yang hendak dikabarkan itu benar.

Karena itu ada tuntunannya, untuk menyampaikan sebuah kabar berita, kita harus memperhatikan apa isinya dan yang paling penting memperhatikan kepada siapa berita itu disampaikan. Karena itu pesan agama, menyampaikan sesuatu harus menyesuaikan dengan kemampuan yang akan mendengarkan, sebab kalau tidak pendengar akan menganggap itu suatu kebohongan, kegilaan atau ketidakbenaran. Jika pesan ini diperhatikan, sebenarnya banyak waktu kita yang tersisa untuk kebaikan.

Saya sesungguhnya tidak ingin menulis tentang peristiwa yang beredar beberapa hari ini yang dipicu oleh opini seseorang. Prinsip paling dasar sebuah opini adalah pendapat seseorang yang belum jelas kebenarannya, informasi yang hanya berisi subjektivitas pikiran dan sudut pandang penulis. Karena itu saya menolak meladeninya. Bagi saya sudah cukup penghakiman yang muncul baik di publik juga di media sosial (medsos), sehingga menggeser jauh substansi persoalan, mengaburkan banyak hal, sehingga yang tertinggal di beranda-beranda medsos hanya umpatan, tuduhan-tuduhan dan sarkasme penuh emosi dan cukup arogan.

Sampai disuatu titik, Bung Olis mencaplok Ayat Alquran untuk mencoba menjelaskan posisinya sebagai pewarta yang menulis opini hingga menimbulkan respon tak menyenangkan dari berbagai pihak. Di tengah kegaduhan, Bung Olis secara halus hendak mengatakan seluruh berita klarifikasi yang dilakukan atas opininya adalah sebuah kebohongan karena disampaikan orang-orang fasik. Penulis opini mengambil Al Hujurat untuk membentengi dirinya, maksud terselubung itu yang saya tantang.

Tindakan tersebut merupakan sebuah pencaplokan ayat menurut hemat saya, karena Bung Olis tidak punya qualified untuk melakukan tafsir atas ayat tersebut, karena untuk menjadi seorang mufasir prasyaratnya cukup ketat. Bahkan lebih ektrim, sebagian ulama mengingatkan bahwa yang bisa menafsir ayat-ayat Alquran sesungguhnya hanyalah Rasulullah SAW. Karena hanya Rasulullah yang paling tau asbabun nuzul dan maksud ayat-ayat itu turun, baik sebagai peringatan juga pengingat.

Terkait dengan surah Al Hujurat ayat 6 yang dipakai Bung Olis dalam tulisannya, dan menurut tafsirnya memberi penekanan pada pekerja pers sesungguhnya keliru jika kita dalami tafsir Al-Misbah Muhammad Quraish Shihab. Sebab ayat itu turun, adalah berita bohong yang disampaikan Al Walid bin Uqbah ketika diutus Rasulullah SAW untuk mengambil zakat kepada Al Harts sebagai mana janji Al Harts kepada Rasulullah ketika ia masuk islam, dalam perjalanannya Uqbah tidak pernah bertemu Al Harts tapi dia kembali ke hadapan Rasulullah dan mengatakan bahwa Al Harts tidak mau menyerahkan zakat dan hampir membunuhnya. Kemudian ayat ini turun untuk mengingatkan Rasulullah jika ada orang fasik datang membawa kabar penting maka harus tabbayun.

Tapi apakah ketika Rasulullah tahu Uqbah seorang fasik kemudian menyebarkan berita itu kepada orang-orang? Tidak. Jadi sebenarnya fungsi pers telah terhenti ketika sudah melakukan tabayyun atas sebuah kabar atau informasi atau berita. Karena tabayyun dalam tafsir Al Misbah atas ayat ini, cari tahu, cek and ricek, selidiki. Jika kemudian anda tahu kabar itu suatu kebohongan maka tinggalkan. Jika dianggap kabar itu benar, ukur dulu boleh disampaikan atau tidak, ada etikanya.

Quraish Shibab menerangkan ada 3 tingkatan sampai suatu berita boleh disampailan. Pertama, sodorkan pada akal anda, ini boleh disebarkan atau tidak. Jika akal membolehkan selanjutnya sodorkan pada agama, ini baik atau tidak untuk disebarkan. Jika akal membolehkan, agama membolehkan maka yang terakhir apakah ini boleh disebarkan hanya pada satu orang (terbatas) ataukah ke publik.

Bisa jadi gagasan atau informasi tentang seseorang dalam bentuk opini yang belum jelas kebenarannya yang anda sebar apalagi hanya dengan mengutip ucapannya lewat sepotong video via medsos meskipun benar, tanpa orang itu tahu maka anda telah melakukan perbuatan ghibah. Bisa jadi informasi yang anda sampaikan benar namun menimbulkan kesalahpahaman dalam masyarakat ketika menerimanya sehingga membuat perpecahan maka anda termasuk penghasut.

Diawal tulisan Bung Olis setelah mencopy paste Al Hujarat ayat 6, ia membukanya dengan kalimat berita itu amanah, yang saya curigai diambil dari ceramah Ustad Abdul Somad “Ada amanah dalam berita” karena sulit sekali kita menemukan literatur tentang ini, dan saya kesulitan mencari referensi juga dalillnya sampai menemukan ceramah ustad UAS. Menurut UAS ketika wartawan menyampaikan berita tidak benar maka sesungguhnya hukumnya ada dua, di dunia dan akhirat. Namun apabila seorang wartawan menyampaikan berita yang benar maka ia akan mendapatkan pahala. Ada amanah dalam berita. Ini lebih mengerikan ketika orang mempermainkan berita hanya untuk setengah sayap nyamuk atau dunia.” Tausiyah ini disampaikan UAS dengan tajuk “Kode Etik Jurnalistik Dalam Perspektif Islam.”

Pada paragraf 1,2 dan 3 Bung Olis berusaha menafsir Al Hujurat ayat 6 untuk menguatkan argumentasinya akan sebuah berita yang batalkan oleh kefasikan. Dimana kata fasik itu terambil dari kata ‘fasaqah’ dalam tafsir Al Misbah, yang mulanya bermakna terkelupasnya kulit buah yang sudah matang atau keluarnya seseorang dari tuntunan agama karena ucapannya. Pada mulanya bermakna seperti itu, namun dalam rumus pakar-pakar hukum islam, fasik itu, orang-orang yang melakukan dosa besar atau seringkali melakukan dosa-dosa kecil tanpa sadar tanpa bertaubat.

Pada paragraf selanjutnya, Bung Olis hanya membedah opininya sendiri dari sepotong kalimat dalam sambutan Wakil Walikota yang kemudian menjadi judul tulisannya “Hirup Debu Batubara Mendapat Pahala” Bung Olis mengakui bahwa ia menulis opini tersebut dengan pendekatan satire.

Padahal, kalau saja Bung Olis sedikit mau bersabar dan melakukan tabbayun sebagaimana perintah Al Hujurat ayat 6 atas sebuah informasi yang ia dengar lewat potongan video via Facebook, Wakil Walikota mengucapkan kalimat itu juga sebagai sebuah satire. Hanya saja kronologis dan latar belakang mengapa sampai Wakil Walikota  mengucapkan satire seperti itu tidak diketahui oleh Bung Olis sehingga gagal memahaminya dengan baik.

Dalam tafsir Al-Misbah atas Al Hujurat ayat 6, Quraish Shihab membedakan dengan jelas ‘khabar’ bersifat umum dan ‘naba’ dimana, ‘naba’ yang dimaksud dalam ayat tersebut berarti berita sangat penting, bersifat khusus. Karena itu Allah memulainya dengan ‘Wahai Orang-Orang Beriman’ berarti ada sesuatu yang perlu diperhatikan, bersifat penting.

Sebagai penutup, Jangan-jangan bung Olis dan saya masuk dalam kategori orang fasik, sehingga informasi apapun yang kita sampaikan, berita apapun yang kita tulis dan dibaca oleh publik mesti diragukan kebenarannya. Sebagai mana rumusan pakar-pakar islam. Orang yang melakukan dosa besar kategori fasik yakni membunuh, korupsi, sementara orang yang seringkali berbuat dosa kecil berulang-ulang juga termasuk orang fasik, contohnya bercanda namun menyakiti hati orang lain, jika itu dilakukan berulang-ulang kali maka termasuk kategori fasik.

Kita mungkin belum melakukan dosa-dosa besar yang termasuk ketegori fasik tapi bisa jadi kita sudah melakukan dosa-dosa kecil berulang-ulang, tanpa sadar tanpa bertaubat. Semoga kita semua terhindar dari kefasikan.

Wallahualam Bissawab…

KJMU Gelar Aksi Solidaritas untuk Nurkholis Lamaau

0

Ternate,- Kawan Jurnalis Maluku Utara (KJMU) gelar aksi dukungan dan solidaritas untuk Nurkholis Lamaau, redaktur cermat.co.id yang mengalami tindakan kekerasan dari ponakan Wakil Wali Kota Tidore Kepulauan, Muhammad Sinen. Rabu malam, 7 September 2022.

Aksi solidaritas ini dilakukan, setelah muncul pemberitaan bahwa Wakil Wali Kota Tidore Kepulauan akan mempolisikan Nurkholis.

Koordinator aksi KJMU, Adhar S. Sangaji, mengatakan aksi ini adalah sikap tegas untuk melawan segala bentuk tindakan kekerasan dan intimidasi terhadap jurnalis.

Aksi KJMU, Solidaritas untuk Nurkholis

“Tentu tidak hanya Nurkholis yang mengalami tindakan kekerasan dan intimidasi. Kerja-kerja wartawan di mana saja selalu berpotensi berhadapan dengan kasus seperti ini, sehingga itu aksi ini adalah bentuk dukungan terhadap jurnalis atau wartawan,” ucap Adhar.

Ia mengaku, selain aksi solidaritas, aksi ini juga meminta dukungan dari masyarakat Maluku Utara untuk menyumbangkan sedikit rezeki agar memudahkan Nurkholis menjalani proses hukum yang sedang berlangsung.

“Melawan kekuasaan yang anti kritik dan alergi terhadap demokrasi tentu membutuhkan banyak dukungan, sehingga itu kehadiran kami di sini untuk ingin terus berdiri bersama Nurkholis,” ungkapnya.

Ia menambahkan, kekerasan terhadap jurnalis tentu sangat tidak dibenarkan oleh konstitusi. Kerja-kerja jurnalis adalah bagian dari fungsi kontrol terhadap kebijakan pemerintah.

“Sehingga itu, kami memilih berjuang bersama Nurkholis, karena Nurkholis selama ini dikenal sebagai wartawan yang kritis dan tak pernah lelah menyampaikan aspirasi masyarakat. Kami sudah membaca banyak liputan dari Nurkholis, liputannya selalu mendalam. Wartawan seperti ini tak boleh dibiarkan berjuang sendirian,” pungkas Adhar.

Sekadar diketahui, Nurkholis sempat mengalami intimidasi dari Usman, saudara Wakil Wali Kota Tidore pada Rabu malam, 31 Agustus 2022. Nurkholis diminta menghapus artikel yang berjudul “Hirup Debu Batubara Dapat Pahala”.

Keesokannya pada Kamis, 1 September 2022, Nurkholis malah mengalami pemukulan dari Arianto, ponakan Wakil Wali Kota Tidore.

Namun, setelah ia datang membuat laporan di Polres Tidore, ia justru diduga mendapat perlakuan intimidasi dari Wakil Wali Kota Tidore.

Sumber : Kawan Jurnalis Maluku Utara (KJMU)

Tim Hukum Nurkholis Sesalkan Sikap Wakil Wali Kota Soal Kasus Kekerasan Terhadap Jurnalis  

0

Ternate,- Tim Advokasi Kekerasan Terhadap Jurnalis menyesalkan pernyataan Wakil Wali kota Tidore pada kabarhalmahera.com bertajuk Muhammad Sinen Minta Maaf ke Polres Tidore Atas Insiden “Keributan” di Ruang SPKT, Minggu 04/09/2022.
 
Muhammad Tabrani,  Tim Advokasi Kekerasan Terhadap Jurnalis  mengatakan, dalam pemberitaan itu, Wawali kehadirannya di Polres Tidore saat itu bertujuan menjenguk ponakannya (Ari), usai mendengar kabar bahwa ia dilaporkan atas dugaan kasus pemukulan terhadap Nurkholis. 
 
“Padahal, yang sebenarnya adalah ia datang bersamaan dengan ponakannya Ariyanto Marajabessy ke Polres setelah Korban Nurkholis melapor ke SPKT Polres Kota Tidore Kepulauan. Bagaimana mungkin menjenguk kalau datangnya saya berbarengan. Itu yang pertama,” ungkap Tabrani, Senin, 5 September 2022.
 
Yang kedua, Wawali mengatakan selain itu, kedatangannya itu juga memastikan maksud dan tujuan dari artikel yang ditulis Nurholis, bertajuk “Hirup Debu Batubara Dapat Pahala”. Tulisan ini sebelumnya dipublikasi melalui pratfom media online cermat.co.id. Namun pada akhirnya tulisan ini kemudian dihapus, saat Nurkholis mendapat tekanan di rumah mertuanya di Tidore oleh orang dekat Wakil Wali Kota Tidore.
 
Bahkan, menurut Wakil Wali Kota Tidore, artikel Nurkholis itu merupakan pandangan subyektif dan terkesan menyudutkan dirinya secara pribadi. Padahal, Wawali tidak mengerti kalau artikel atau opini, yang ditulis di platform media baik itu cetak maupun online merupakan sebuah karya jurnalistik (jurnalisme) atau sering disebut opinion journalism.
 
Dalam Opini wartawan (jurnalis) dapat mengabarkan ide, gagasan, pemikiran, pandangan atau analisanya tentang sebuah peristiwa. Dalam jurnalistik opini juga sebagai fakta dalam gagasan (fact in idea) yang hakikatnya melaporkan fakta.
 
Jadi Opini termasuk karya jurnalistik. Kalau Wawali merasa keberatan dengan isi opini nurkholis, seharusnya upaya yang ditempuh adalah hak jawab atau hak koreksi karena setiap orang punya hak untuk memberikan tanggapan atau mengoreksi (ralat) terhadap suatu informasi, data, fakta opini, atau gambar yang tidak benar diberitakan oleh pers. Dan pers walib melayani hak jawab atau hak koreksi tersebut. Jika memang ada kekeliruan.
 
Tapi kalau tidak ada kekeliruan opini tersebut tidak perlu dikoreksi. Bukan malah mengintimidasi wartawan untuk menghapus opininya. Itu yang kami sesalkan cara-cara premanisme untuk menghambat dan membatasi wartawan (jurnalis) menyampaikan gagasan atau informasi seperti ini tidak bisa dibiarkan, sebab sebagaimana disebutkan dalam Pasal 8 UU Pers bahwa dalam melaksanakan profesinya wartawan mendapat perlindungan hukum.
 
Perlu kami luruskan pernyataan-pernyataan yang menyesatkan publik seperti itu, ternyata banyak orang di era serba terbuka seperti ini belum memahami peranan wartawan (jurnalis) dalam sebuah negara demokrasi seperti Indonesia.
 
Peranan pers itu diantaranya memenuhi hak masyarakat untuk mengetahui, menegakkan nilai-nilai dasar demokrasi, mendorong terwujudnya supremasi hukum dan hak asasi manusia, mengembangkan pendapat umum, melakukan pengawasan, kritik, koreksi dan saran terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan umum, serta memperjuangkan keadilan dan kebenaran. Oleh karena itu, maka setiap karya jurnalistik yang dibuat oleh wartawan (jurnalis) harus dilihat dalam perspektif itu.
 
“Kalau ada wartawan yang nakal silahkan dilaporkan ke Dewan Pers, sudah ada mekanismenya. Tapi jangan dengan cara-cara “purba” mengintimidasi, mengancam, dan melakukan kekerasan,” ujarnya.
 
Sumber : AJI Ternate

Fenomena Komunikasi : Budaya Menunduk Remaja Kota Ternate

0

Oleh : Iskar Suma*

Sebuah benda mungil dan berbentuk segi empat, bisa ditaruh ke saku celana. Karena kecil, benda tersebut mudah dibawa kemana-mana. Di dalam benda itu, berisikan banyak hal tentang dunia yang kita tempati. Banyak hal yang dapat dilakukan dengan mudah dengan bantuan benda tersebut salah satunya berinteraksi dengan seseorang yang tidak sedang bersama kita. Asalkan benda itu terkoneksi dengan yang namanya jaringan.

Handphone’ merupakan salah satu bentuk dari perkembangan teknologi komunikasi, dan juga merupakan barang bawaan saat ini yang tak bisa dilepas oleh setiap orang. Tak pandang usia, baik muda mau pun tua. Kebiasaan ini membuat setiap orang mudah terjangkit penyakit ketakutan jika tidak membawa handphone. Ketakutan ini dapat dikaitkan dengan teori ‘Ketergantungan’ yang dicetuskan oleh Sandra Ball dan Malvin DeFleur. Implementasi dari teori ini bahwa pada jaman sekarang setiap orang mempunyai ketergantungan terhadap salah satu atau bahkan lebih pada aplikasi-aplikasi yang ada di dalam handphone karena mempunya kepentingan terhadap aplikasi dimaksud, itulah kenapa mereka enggan untuk meninggalkan benda tersebut.. Ketakutan itu juga bisa disebabkan karena jangan sampai kita ketinggalan informasi atau tidak up to date.

Pada era sekarang handphone juga telah dibuat sebagai wadah untuk membangun usaha atau usaha berbentuk jaringan. Sebagian juga menggunakan handphone sebagai alat untuk mengisi waktu luang seperti bermain Game Online, membaca berita online, dan juga untuk melihat gambar dan video. Indonesia merupakan salah satu Negara dengan pengguna terbanyak Media Sosial. “Menurut data hasil riset yang dilakukan situs HootSuite dan agensi marketing pada januari 2020 yang dirilis KumparanTECH pada akhir januari 2021. Menurut data yang ditulis KumparanTECH tersebut. Menunjukkan bahwa, dari 47 negara yang dianalisis, indonesia berada di posisi 9. Dengan hasil presentase, rata-rata masyarakat indonesia menggunakan media sosial selama 3 jam 14 menit perharinya.

Jika pengguna media sosial terus meningkat setiap tahunnya. Maka ini bukan lagi menjadi masalah sepele. Terlebih lagi, hasil riset yang dilakukan Yahoo yang bekerja sama dengan Sekolah Tinggi Sandi Negara (STSN). Menyimpulkan bahwa, di indonesia terdapat 64% pengguna media sosial adalah kaum remaja di usia 15-19 tahun.
Hal ini dapat merusak mental generasi penerus Indonesia. Jika mereka terlalu asik dengan handphone dari pada bersosialisasi dengan orang sekitar. Remaja yang telah terobsesi dengan handphone, akan mengakibatkan mereka tidak pandai bersosialisasi, bersifat masa bodoh dengan keadaan sekitar, buang-buang waktu dan terus bermalas-malasan.

Hal ini sering diistilahkan dengan perilaku phubbing. Phubbing adalah dua kata yang di padukan. Yaitu phone dan snubbing. Phone artinya handphone atau gadget, dan snubbing berarti melecehkan (Robert dan David, 2016).
Istilah ini diperuntukkan kepada orang-orang yang lebih senang berselancar di media sosial dari pada berkomunikasi dengan orang yang berada di hadapannya. Sehingga orang tersebut merasa tidak dihargai keberadaannya.

Hasil riset yang dilakukan McMaster University, Kanada, pada tahun 2016. Begitu pun dengan Studi University of Southern California, dan University California, Amerika Serikat, pada tahun 2018 lalu. Menyimpulkan bahwa, media sosial dapat memicu anak berperilaku implusif dan hiperaktif. Karena terlalu senang dengan dunia maya, membuat kita lupa dengan dunia kita yang sebenarnya. Membuat orang lebih mementingkan sesuatu yang ada di gawainya dari pada apa yang ada di sekitarnya.

Perkembangan teknologi komunikasi memang menuai banyak manfaat positif yang dirasakan setiap orang. Mempermudah orang berinteraksi tanpa alasan karena jarak, dan orang mudah mendapatkan informasi.
Akan tetapi, teknologi komunikasi tersebut juga bisa membawa dampak negatif jika kita tidak pandai menggunakannya. Pengaruh media sosial dengan tingkat kekerasan secara verbal saat ini sangat meningkat. Setiap orang punya kebebasan berkomentar tentang orang lain, dalam bentuk pujian atau pun cacian di media sosial. Tanpa berfikir, kita memainkan jari untuk mengetik kalimat yang bisa saja orang yang dikomentari terganggu secara psikologinya.

Untuk itu, kita harus lebih pandai dalam menguasai dan mengontrol diri kita agar tidak dibodohi oleh teknologi. Kuasai teknologi jangan malah kita yang dikuasai. Yang pada akhirnya. Janjian makan biar lebih mempererat hubungan. Namun, sesampainya di tempat makan, masing-masing menunduk dan asik memainkan gawainya.

Berdiam diri di rumah agar lebih akrab dengan keluarga. Akan tetapi di ruang keluarga masing-masing sibuk dengan handphone-nya. Merupakan kebiasaan buruk yang sepatutnya dihilangkan oleh generasi penerus indonesia. Karena hal demikian sangat bertentangan dengan kebiasaan orang Indonesia terdahulu yang dikenal dengan saling membantu dan suka bersosialisasi.

Agar supaya kita tidak terpapar virus berbahaya dari teknologi komunikasi. Atau yang sering di istilakan pecandu handphone, berperilaku phubbing, dan anti sosial. Khususnya para remaja, harus di bawah kontrol orang tuanya. Sering melakuan aktifitas yang tidak melibatkan gadget. Membaca buku cetak, terutama kaum pelajar. Belajar mengurangi waktu penggunaan gadget. Jika biasa bangun tidur langsung mencari gadget, mulai dari sekarang ganti dengan aktivitas lain.

*Penulis adalah pegiat literasi di Pilas Institute

AJI Ternate Kecam Penganiayaan Terhadap Nurcholis, Polisi Harus Proses Hukum Pelaku hingga Tuntas  

0

Ternate,- Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Ternate mengecam penganiayaan terhadap Nurcholis Lamau, redaktur Cermat partner resmi Kumparan di rumah korban, RT05, Kelurahan Rum Balibunga, Kota Tidore Kepulauan, Rabu (31/8/2022).
 
Pemukulan itu disaksikan langsung istri dan ipar korban dari balik jendela kamar depan. Di duga kuat pemukulan itu berhubungan dengan tulisan Nurcholis bertajuk “Hirup Batu Bara Dapat Pahala” yang diterbitkan di media online cermat.co.id.
 
Tulisan tersebut menanggapi potongan  pernyataan Wakil Wali Kota Tidore Kepulauan Muhammad Sinen dalam pembukaan turnamen domino di Kelurahan Rum Balibunga yang menyebut warga yang menghirup debu akan mendapat pahala. 
 
Peristiwa penganiayaan ini terjadi pukul 09.15 WIT dan telah dilaporkan ke Polres Tikep. Korban dipukul menggunakan kepalan tangan oleh Ary yang merupakan ponakan kandung Wakil Wali Tikep.
 
Malam sebelum kejadian, Nurcholis juga diintimidasi oleh saudara kandung Wakil Wali Kota dan memintanya menghapus tulisan tersebut dan telah disetujui.
 
Menyikapi hal tersebut, AJI Ternate, menganggap tindakan-tindakan intimidasi dan kekerasan terhadap jurnalis dalam menjalankan tugas-tugasnya secara nyata telah melanggar Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
 
Ini diatur dalam Pasal 4 yang menyebut: “Kemerdekaan pers dijamin sebagai hak asasi warga negara.”
 
“Yang dimaksud dalam pasal ini, seperti tertulis pada bagian penjelasan, adalah pers bebas dari “tindakan pencegahan, pelarangan, dan atau penekanan agar hak masyarakat untuk memperoleh informasi terjamin,” kata Ketua AJI Ternate Ikram Salim.
 
Ia menuturkan, Undang-Undang Pers Nomor 40 Tahun 1999 telah mengatur bahwa jurnalis bertugas sebagai pemberi informasi, edukasi, hiburan serta kontrol sosial. Jadi ia mewajarkan jika sudah sepatutnya masyarakat harus mengetahui hasil dari apa yang dikerjaan pejabat publik.
 
 
Sanksi diatur dalam Pasal 18. Di sana disebut siapa saja yang dengan sengaja melakukan tindakan yang mengakibatkan terhambatnya kemerdekaan pers “Dipidana penjara paling lama dua tahun atau denda paling banyak Rp 500 juta”.
 
Atas dasar tersebut, AJI Ternate mengecam keras segala bentuk-bentuk intimidasi maupun kekerasan terhadap jurnalis dan mendesak:
 
1. Polres Tidore Kepulauan harus mengusut tuntas kasus penganiyaan dan intimidasi terhadap Nurcholis hingga selesai.
 
2. Polisi harus mendalami aktor intelektual yang menyebabkan tindakan intimidasi dan penganiayaan karena terbukti melanggar UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.
 
3. AJI Ternate meminta masyarakat maupun aparat negara menghargai tugas-tugas jurnalistik oleh jurnalis, khususnya jurnalis perempuan yang rentan mendapat kekerasan.
 
 
 Sumber : Rilis AJI Ternate

Sebulan Berlalu, Siswa Juara Lomba Menyanyi FLS2N di Tidore Belum Terima Bonus

0

Tidore,- Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) yang diselenggarakan Kemendikbudristek di Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayan Kota Tidore Kepulauan pada 17 Juli lalu dikeluhkan oleh orang tua peserta.

Pasalnya, Nur Assyifa, siswa SDN 1 Gamtufkange, peserta yang berhasil menjadi juara pertama lomba menyanyi tunggal, hingga saat ini belum menerima bonus juara yang dijanjikan. Bonus yang diserahkan oleh Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Kota Tidore Kepulauan menurut orang tua peserta, hanya berupa plakat tanda juara yang tercantum jumlah uang bonus yang diterima sang anak.

Orang tua Nur Asyifa, Maryam Hadad (54) mengaku, anaknya belum sama sekali menerima uang bonus juara. Adapun jumlah uang bonus yang tercantum pada plakat juara adalah sebesar Rp 1.200.000, padahal uang bonus untuk juara yang lain telah diberikan pada saat pengumuman juara. 

“Anak ini ikut lomba FLS2N, dia juara satu lomba menyanyi tunggal, itu tanggal 17 Juli 2022 dan langsung terima hadiah. Sampai sekarang hadiah itu dong belum kase, dong cuma kase dalam bentuk papan saja,” ungkapnya. Kamis (25/8).

“Juara yang lain dong so kase langsung itu hadiah, tinggal juara 1 dan 2. Dong bilang, nanti tunggu pengumuman samua lomba baru dong kase,” terang Maryam.

Ia melanjutkan, ketika semua mata lomba baik seni maupun olahraga telah selesai dan diumumkan juaranya. Bonus untuk  Nur Assyifa pun tak kunjung diterima.

“Tarada kabar, saya so coba telpon  bendahara dinas,  dong bilang tunggu nanti SMP menari dulu baru dong pengumuman baru nanti kase satu kali. Sampe SMP 1 so dapa juara kong iko lomba di tingkat provinsi,  sampe sekarang me dong bolom kase,” jelas Maryam.

Maryam menyayangkan hal semacam ini menimpa putrinya. Ia berharap anak-anak yang mengikuti lomba seperti ini sebaiknya langsung diberikan hadiahnya dan tidak ditunda-tunda, agar anak-anak tetap semangat dalam belajar dan berprestasi.

“Saya berharap, biar tambah semangat harus kase dong pe hak to, jadi kase semangat dorang agar terus berprestasi, saya sendiri juga bingung mo jawab apa kalo anak tanya, yang dia tau kan dia juara satu,” tegasnya.

Sementara itu, Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Kota Tidore Zainuddin Umasangaji, saat dihubungi Sentra menjelaskan, mengenai hadiah lomba FLS2N yang lalu, untuk juara pertama bonusnya berbeda denga juara yang lain, yaitu berupa beasiswa prestasi yang akan ditransfer ke rekening pemenang juara pertama.

Karena peserta belum memiliki rekening. Sehingga dana tersebut harusnya ditransfer ke rekening orang tuanya. Menurut Zainuddin, sejauh ini kendala pencairannya adalah proses verifikasi rekening oleh pihak Kementerian selaku penyelenggara lomba.

Ia menegaskan, saat ini dana beasiswa tersebut telah siap dan akan segera ditransfer ke rekening orang tua yang bersangkutan.

“Insya Allah dananya sudah siap dan akan segera torang proses untuk ditransfer ke rekening orang tua anak tersebut,” tutup Zainuddin.

Reporter : Aalbanjar
Editor : Redaksi

error: Content is protected !!