Napak Tilas Sejarah Pergerakan Sultan Nuku di Akelamo dalam Revolusi Tidore 1797 

Oleh :

Soleman Nuhu
Gimalaha Nyili Seba-seba Kesultanan Tidore

Akelamo adalah sebuah negeri tua di bawah kekuasaan Kesultanan Tidore.

1512 naik tahta Jou Sultan Al-Mansyur, tersurat dalam berbagai catatan sejarah.

Pada 1516 Jou Sultan Al Mansyur memperluas Syiar ke  wilayah Papua.

“Lantas Jou Kolano una rigee wotagi wopane oti isa toma Haleyora (Halmahera) wodae toma rimoi maronga Sisimaake wouci kagee lalu wotagi ine toma Akelamo lantas kagee wotomake jarita yowaje coba Jou Kolano mau hoda ngolo madomong kataa, gena e lebe laha Jou Kolano nowako koliho mote toma lolinga madomong kataa, gena e lebe laha Jou Kolano nowako koliho mote toma dolinga karena kagee seba foloi.”

Penggalan kalimat di atas adalah salinan catatan sejarah dalam “Bahasa Tidore” ketika Jou Sultan Al Mansyur, Sultan Tidore yang pernah mengadakan expedisi dan Syiar Islam ke pulau Halmahera bagian selatan sampai di Papua dan pulau-pulau sekitarnya. Pengggalan catatan sejarah tersebut adalah bukti keberadaan Jiko ini, jauh sebelum itu dan telah berada dalam rangkulan Kesultanan Tidore.

Akelamo, sebagaimana wilayah lainnya juga merupakan pusat lumbung pangan dan logistik Kesultanan Tidore. Letak Akelamo sendiri, diapit oleh dua Aha, yaitu Aha Kapita dan Aha Dahe Ake.

Maka izinkan kami mengantarkan kisah singkat Napak Tilas Perjalanan Revolusi Tidore 1797. Revolusi yang merupakan perjuangan bersama berbagai pihak dari berbagai wilayah. Dalam kesempatan ini, izinkan kami mengangkat kisah singkat dari salah satu titik perjuangan bersejarah tersebut, yaitu Jiko Akelamo.

Soleman Nuhu, Gimalaha Nyili Seba-seba Kesultanan Tidore

Pada tanggal 29 Agustus 1795 dari Pulau Gebe Jou Nuku mengirimkan surat kepada saudaranya Jou Sultan Kamaluddin. Jou Nuku dalam surat ini meminta Kamaluddin agar bergabung dengan dirinya untuk melawan Belanda. Surat ini memberi sebuah “maklumat” jika perjuangan Jou Nuku adalah menentang Belanda dan mengusirnya dari Tidore dan Maluku.

Jou Nuku tak ingin ada benih pertentangan antara dirinya dan saudaranya Kamaluddin yang berbias di kemudian hari. Tak boleh ada benih perpecahan di antara keluarga. Surat Jou Nuku membuktikan kebesaran dirinya sebagai pemimpin yang “dirindukan”.

Jou Kamaluddin membaca surat Jou Nuku. Ia membalasnya dengan banyak nasehat agar Jou Nuku tak menyusahkan Belanda dan rakyat Tidore dengan kekacauan. Jou Nuku diminta pulang ke Waru dan Jou Kamaluddin berjanji agar meminta Belanda mengampuninya.

Jou Nuku hanya mengelus dada saat membaca surat Jou Kamaluddin, Jou Kaicil Paparangan menyadari bahwa saudaranya tak lagi bisa diajak untuk bersama melawan Belanda. Jou Kamaluddin sudah termakan dengan politik adu domba pihak Belanda dan telah menjadi boneka kompeni.

Waktu terus berjalan Yang Mulia Jou Nuku terus menggalang kekuatan pasukannya.

Johan Godfried Budach, Gubernur Ternate meminta bantuan Gubernur Jenderal di Batavia, tetapi surat Sang Gubernur tak pernah sampai di sana. Seluruh wilayah laut telah diblokade armada Jou Nuku.

Dari Maba, sebuah surat diikirimkan Jou  Nuku ke Tidore. Ia sekali lagi meminta saudaranya Jou Kamaluddin untuk bergabung. Efek surat itu seperti teror. Semua ketakutan. Di Ternate, surat Nuku dibahas dalam rapat dewan Gubernuran. Sultan Ternate, Jou Aharal Sjah yang diundang pun tak datang. Belanda merasa ditinggal sendirian.

Awal April di tahun itu, tepatnya 9 April 1797, ratusan kora kora sudah bersiap di Akelamo, Guraping dan Pulau Mare. Pasukan-pasukan Nuku juga telah bersiap di seputaran Pulau Tidore, menunggu seruan dari Jou Barakati.

Ketika perang sudah di depan mata, Jou Nuku masih berbaik hati pada adiknya Jou Kamaluddin. 10 April 1797 dari Akelamo beliau mengirimkan surat kepada saudaranya Kamaluddin agar bergabung bersamanya untuk melawan Belanda.

“Beta Paduka Sri Sulthan Saidul Jehad Muhammad El Mabus Amiruddin Sjah Kaicil Paparangan, Radja atas sekalian negeri dan tanah-tanah yang bertakluk dibawah perintah beta, mengirim warkat yang dimeterai dengan beta punya meterai agar dapat dipercaya, disertai dengan salam dan doa kepada saudara adinda Paduka Sri Sulthan Djou Hairul Alam Kamaluddin Sjah Kaicil Asgar, Radja atas negeri Tidore dan sekitarnya, maka kumohonkan dilanjutkan kiranya usia zamannya dalam sehat walafiat.

Kemudian daripada itu beta beritahukan kepada Paduka Yang Mulia bahwa kompeni Inggris telah mufakat bersekutu dengan beta. Oleh sebab itu beta harapkan dan nantikan kabar mufakat dari saudara. 

Janganlah kiranya Paduka Yang Mulia khawatir dan takut. Perintahlah rakyat Tidore tercinta dengan tenang dan sangat berhati-hati agar supaya jangan saudara ditimpa bencana dari pihak kompeni Belanda.

Kamaludin Saudaraku, sambutlah tanganku bersatu kita halau penjajah itu agar marwah negeri leluhur kita tetap luhur. No cou Lada ifa.”

Surat ini dikirim atas nama duka se gogoru, namun Kamaluddin enggan menyambut  Nuku.

11 April 1797, Nuku mengumumkan maklumat perang di hadapan 6000an prajurit yang berdatangan dari Tidore, Ternate, Makian, Papua, Bacan, Gorom, Alifuru Seram dan Alifuru Halmahera, Nyili Seba-Seba, Nyili Lofo-lofo Nyili Gulu-gulu.Maklumat itu juga sampai di Kadato Kie.

Titah Jou Nuku pada armada perangnya ;

Kita hanya memerangi Belanda dan pendukungnya, dilarang membunuh musuh yang menyerah dan membakar rumah rakyat.

Barang-barang rampasan perang seperti senjata, amunisi dan mesiu dikumpulkan di markas dan orang Belanda yang menyerah dan tertawan tidak boleh dibunuh, harus dibawa menghadap Nuku.

Dari penggalan isi surat dan Titah itu, kita dapat mengenal sosok Jou Barakati. Dia, Jou El Mabus Kaicil Paparangan, tahuu siapa saudara siapa musuh.

Dari Jou Nuku kita mengenal bagaimana mempersatukan perbedaan.

Dari Jou Nuku kita mengenal sikap patriotisme.

Dari Jou Nuku kita melihat sosok diplomat ulung.

Dari Jou Nuku kita mengenal sikap kepemimpinan atas nama duka se gogoru.

Dini hari 12 April 1797, Gong dan Tifa bergema bertalu-talu. Parang Tombak dan Salawaku dihunus ke depan memperjuangkan dan mempertahankan harkat dan martabat luhur Negeri Tidore, suara pekik perang para Sangaji, Gimalaha, Fomanyira dan para Kapita bergema di atas bumi Tidore, Ribuan Korakora merangsak masuk, semua dalam seruan komando Jou Kaicil Paparangan, serbuuu…! Armada perang Nuku mengepung Tidore dari semua arah.

Nuku dan Pasukan tiba di Sonyine Salaka tanpa pertumpahan darah. Seluruh Tidore menyambut Sang Kaicil Paparangan. Para Sangaji, Gimalaha, Fomanyira, para Bobato, para Imam dan Qadi serta Para Kapita berkumpul memberi penghormatan. Suba Jou.

Saat itu juga Nuku dinobatkan sebagai Sultan Tidore dengan gelar Sri Paduka Maha Tuan Sultan Said’ul Jehad Muhammad El Mabus Amiruddin Sjah Kaicil Paparangan.

EEE…. SONINGA BORERO NO BASO RAI MARUA…

RUBA NI FOLA IFA, MA BUKU RAHA GOSIMO NA GIA MA ACE…

SODIA LINGA YO BANGA IFA, NGOFA SE DANO NA LINGA SE DODAGI.

SONINGA….
SIDE MALIYARO JANJI, ROFU SONINGA MA BORERO….

LUPA JANJI MAILAHA, BORERO NO LUPA IFA…

Catatan:

Tulisan ini dibuat berdasarkan berbagai catatan, sumber sejarah dan tutur para orang tua secara turun temurun, untuk dibacakan dalam Gelaran Pesona Budaya Jiko Akelamo, Rabu 10 Januari 2024.