Cerita Bisnis Air Minum Antar Pulau di Halmahera Utara

Tobelo,- Air adalah kebutuhan utama bagi keberlangsungan mahluk hidup di bumi. Tiada satu mahluk hidup pun yang tidak memerlukan air. Demikian juga manusia, tanpa air maka dipastikan tidak ada kehidupan. Bahkan peradaban manusia kerap di awali dari sekitar mata air, sebut saja peradaban lembah sungai Eufrat dan Tigris, sungai Nil atau pradaban Arab yang tumbuh di sekitar air Zam-zam di Mekkah.

Ketergantungan manusia akan ketersediaan air, menjadikan air sebagai komoditas yang pasti dicari. Apalagi dalam kondisi lingkungan kita yang semakin tercemar saat ini. Bisnis air bersih menjadi peluang yang sangat menjanjikan.

Permintaan akan air minum yang tinggi, mendorong para pelaku usaha untuk berbisnis di sektor ini. Di desa Gosoma, Tobelo, Kabupaten Halmahera Utara, salah satu bisnis air minum yang cukup dikenal adalah Depo Air Oxy Teratai.

Afriyanto Soekoemay atau yang biasa disapa Bang Anto (42), pria asal Buton, Sulawesi Tenggara adalah pemilik  depo air isi ulang tersebut. Salah satu depo yang terbilang besar dan mampu menjangkau hingga beberapa kecamatan di Halut dan ke pulau Morotai.

Proses bongkar muat air minum di pelabuhan Tobelo

Kepada Sentranews.id ia berkisah, bahwa usaha yang ia mulai sejak 2018 ini awalnya adalah cabang dari depo air isi ulang yang dibangun oleh Hi Suwarno, kerabatnya  dan merupakan perintis bisnis air isi ulang di Tobelo.

“Awalnya di  Tobelo, yang buka usaha air galon itu namanya Haji Suwarno, orang Buton. Namun dengan kebutuhan akan air galon yang semakin banyak maka muncul beberapa depo baru hingga kini kurang lebih 70 depo air galon yang ada,” kenang Bang Anto. Rabu (1/9).

Ia menambahkan, bahwa permintaan air yang tinggi saat itu, menyebabkan depo Hi. Suwarno tidak sanggup lagi melayaninya.

BACA JUGA   Tutup Rapat Koordinasi Bawaslu Tidore dengan Insan Pers, Amru Bilang Begini!

“Kondisi depo pertama itu tidak mampu lagi untuk layani konsumen, akhirnya kita putuskan untuk bagaimana caranya  menjamin pelayanan itu karena bukan hanya di kota sini melainkan sampai ke pelosok-pelosok desa sana,” tambahnya.

Ia bercerita, masyarakat Tobelo baru mulai mengenal dan mengonsumsi air isi ulang ini pada tahun 2008 lalu.
Menurutnya, mengonsumsi air isi ulang lebih praktis bagi masyarakat. Disamping praktis, membeli air isi ulang bisa menghemat pemakaian minyak tanah yang kini kian sulit diperoleh.

“Untuk air isi ulang kebutuhannya sangat besar, dengan adanya air isi ulang ini masyarakat termanjakan, su tidak lagi berpikir harus cari kayu bakar, harus cari minyak tanah apalagi minyak tanah yang sulit ini,” terangnya.

Pose ceria para karyawan depo Teratai

Ia menjelaskan, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mengonsumsi air isi ulang, terutama mengenai perawatan wadahnya (galon) itu sendiri, agar tetap bersih dan higienis. Ia melanjutkan, bahwa kebiasaan membiarkan dispenser terbuka dalam waktu yang cukup lama, seringkali menjadikannya sarang nyamuk.

“Kebiasaan masyarakat saat kehabisan air dari dispenser, sering membiarkan mulut dispenser itu terbuka, sehingga memungkinkan nyamuk untuk masuk dan bertelur hingga kemudian menjadi jentik nyamuk,” jelasnya.

Air yang diolah oleh depo Teratai, bersumber dari PDAM, yang terjamin kebersihannya. Ia melanjutkan  bahwa dalam operasional depo, sehari-hari ia dibantu oleh dua orang karyawan yang ia beri honor, tempat tinggal, makan dan juga keperluan lainnya.

Selain di Tobelo, konsumen air isi ulangnya juga berasal dari beberapa wilayah lain. Bahkan hingga diluar wilayah Halut, yaitu;  Kab. Halmahera Timur dan juga menyeberang  ke Pulau Morotai.

“Untuk di kota Tobelo kita tiap hari mempersiapkan 200 galon air, dan berkurang tergantung kondisi cuaca. Kita bahkan melayani sampai ke tingkat pulau-pulau mulai dari kecamatan Loloda, kabupaten Haltim dan juga kabupaten Morotai,” terangnya.

BACA JUGA   Semarak Kemerdekaan, IPMG Gurabunga Kota Tidore Gelar Sejumlah Lomba

Harga yang ia tawarkan juga beragam tergantung  jarak tempuh dan volume pengantaran.

“Kalo di kios-kios biasa, air oxy kami jual seharga Rp.7.000 sedangkan air isi ulang biasa di angka Rp.5.000, biaya pengantaran pun berbeda, air isi ulang biasa Rp.8.000, sedang air oxy Rp.9.000,” ungkapnya.

Ia melanjutkan, bahwa distribusi air isi ulang yang sudah sampai ke beberapa wilayah di luar kota Tobelo kini terbatasi oleh pandemi Covid-19, terutama sejak PPKM di berlakukan. Ia mengaku, pendapatannya kini menurun, dari yang semula bisa mencapai 600-700 ribu per hari kini berkurang.

Adapun mengenai kompetitor yang kini semakin banyak, ia meyakini bahwa bisnis air isi ulang tetap akan survive, kecuali tidak dibutuhkan lagi.

“Selagi air masih menjadi kebutuhan penting manusia, selama itu kami para pengusaha air isi ulang tidak pernah libur,” tutup Bang Anto.

Reporter : Arqam
Editor : Redaksi