Meningkatkan Kemampuan ‘Active Listening’ dalam Menjaga Profesionalisme Perawat

Oleh:

Rendi Marasaoli,

MK Profesionalisme dalam Keperawatan, S1 Reguler Fakultas Ilmu Keperawatan ([email protected])

Komunikasi yang baik antara orang-orang yang bekerja di bidang kesehatan sangat penting untuk memberikan pelayanan yang baik kepada pasien. Misalnya, jika ada masalah komunikasi antara dokter, perawat, atau apoteker, bisa berbahaya bagi pasien dan menyebabkan kesalahan pengobatan, penundaan, atau penderitaan yang tidak perlu (Gessler, Rosenstein, & Ferron, 2012). Menurut hasil survei yang melibatkan lebih dari 2.100 dokter dan perawat oleh American College of Physician Executives, masih banyak yang berperilaku kasar atau tidak sopan di tempat kerja (Clinical Rounds, 2010, hal. 21). Perilaku seperti ini tidak hanya merugikan pasien, tetapi juga membuat staf merasa tidak nyaman.

Perawat merupakan salah satu profesi kesehatan yang paling dekat dengan pasien. Oleh karena itu, perawat harus memiliki kemampuan komunikasi yang efektif untuk memberikan asuhan keperawatan yang bermutu dan sesuai dengan kebutuhan Biopsikososial serta spiritual pasien. Salah satu keterampilan komunikasi yang penting bagi perawat adalah active listening atau mendengarkan secara aktif.

Active listening sendiri merupakan teknik komunikasi yang menunjukkan perhatian penuh dan empati kepada pembicara, dengan cara memahami pesan yang disampaikan, memberikan umpan balik, menghargai pendapat, dan memberikan tanggapan yang tepat. Active listening dapat membantu perawat untuk membangun hubungan saling percaya dengan pasien, mengidentifikasi masalah dan kebutuhan pasien, serta memberikan dukungan dan bantuan yang sesuai.

Untuk meningkatkan kemampuan active listening, perawat perlu memperhatikan beberapa hal berikut:

  • Pusatkan perhatian pada pasien. Perawat harus mengurangi gangguan yang ada, seperti suara bising, telepon, atau aktivitas lainnya. Perawat juga harus menjaga kontak mata dengan pasien dan menunjukkan ekspresi wajah yang sesuai.
  • Tunjukkan gesture sedang mendengarkan. Perawat dapat menggunakan bahasa tubuh yang menunjukkan minat dan keterlibatan, seperti mengangguk, tersenyum, atau menyentuh tangan pasien. Perawat juga dapat menggunakan kata-kata atau bunyi yang menunjukkan bahwa perawat sedang mendengarkan, seperti “ya”, “mm-hmm”, atau “oh”.
  • Berikan umpan balik. Perawat dapat memberikan umpan balik kepada pasien untuk memastikan bahwa perawat telah memahami pesan yang disampaikan. Umpan balik dapat berupa mengulangi kembali poin utama, merangkum isi pembicaraan, atau mengajukan pertanyaan untuk klarifikasi.
  • Jangan menjudge. Perawat harus menghindari sikap kritis, menyalahkan, atau menasehati pasien tanpa diminta. Perawat harus menghargai pendapat dan perasaan pasien, serta mengakui hak pasien untuk membuat keputusan sendiri.
  • Memberikan tanggapan dengan tepat. Perawat dapat memberikan tanggapan yang sesuai dengan tujuan komunikasi, seperti memberikan informasi, edukasi, motivasi, konseling, atau rujukan. Tanggapan perawat harus jelas, jujur, dan empatik.

Dengan menerapkan active listening dalam praktik keperawatan, perawat dapat meningkatkan profesionalisme dan citra keperawatan di mata pasien dan masyarakat. Active listening juga dapat memberikan manfaat bagi pasien, seperti meningkatkan kepuasan, kepercayaan diri, kemandirian, dan kesembuhan.

Daftar Pustaka

Clayton-Hathway, K., Griffiths, H., Schutz, S., Humbert, A. L., & Mcilroy, R. (2020). Gender and Nursing as a Profession: Valuing nurses and paying them their worth. Royal College of Nursing.

Kaur, J. (2017). Male Nurses : A Visible Minority Male Nurses : A Visible Minority. 13(9). https://scholarworks.sjsu.edu/mcnair/vol13/iss1/9

Maryunani, A., Hariyati, R. T. S., & Novieastari, E. (2021). Phenomenological study on the experience of male nurses in caring for female patients. Jurnal Keperawatan Indonesia, 24(1), 32–41. https://doi.org/10.7454/jki.v24i1.690

Ozdemir, A., Akansel, N., & Tunk, G. (2008). Gender and career: Female and male nursing students. perceptions of male nursing role in Turkey. Health Science Journal, 2(3), 133–161.

Rahminawati, N. (2001). Isu Kesetaraan Gender Laki-Laki dan Perempuan (Bias Gender). Mimbar, XVII(3), 272–283.

Wulandari, T. (2012). Faktor-Faktor yang Melatarbelakangi Laki-Laki Berprofesi Sebagai Perawat. Universitas Negeri Yogyakarta.