Boki Nita Kembali Lantik Perangkat Adat Kesultanan Ternate

Ternate – Wali Kolano Kesultanan Ternate, Boki Nita Budhi Susanti kembali melantik sejumlah perangkat adat di Kadaton Ici Kesultanan Ternate. Jumat (15/12).

Prosesi pelantikan tersebut diawali dengan penyematan pakaian adat oleh Tulilamo Kesultanan Ternate Ilyas Bayau, kemudian prosesi pengambilan sumpah oleh Boki Nita dan diakhiri dengan pembacaan doa oleh Joguru Cim Ramli Muntaha.

Para perangkat adat yang diambil sumpahnya pada Jumat pagi tersebut antara lain; Syarif Tabaika sebagai Fanyira Kadaton, Ade Taher sebagai Sowohi Kadaton, Irwanto Yahya sebagai Kapita Kadaton, Ramli Nurdin sebagai Soseba, Sa’i Supandi sebagai Letnan Ahi Besi dan Sarmin Saban sebagai Kapita Bubula Tabam.

Pembacaan doa usai prosesi pelantikan

Usai pelantikan, Ilyas Bayau selaku Tulilamo didampingi oleh Fanyira Kadaton Syarif Tabaika, Kimalaha Labuha Taisa Subuh, Kimalaha Sula Mas’ud Yunus dan Kimalaha Tomagola Lifan Saleh menggelar konfrensi pers.

Dalam konfrensi pers tersebut Ilyas Bayau mengecam pemberian gelar adat kepada para pejabat pusat maupun daerah. Ia menghimbau agar para pejabat tidak menggunakan Kesultanan Ternate untuk mengejar popularitas.

Ilyas menyampaikan bahwa Kesultanan Ternate saat ini sesuai dengan wasiat mendiang Sultan Mudaffar Sjah, dipegang oleh Wali Kolano dalam hal ini Boki Ratu Nita Budhi Susanti hingga Kolano Madoru dewasa atau cukup umur untuk menggantikan Sultan Mudaffar Sjah sebagai Sultan Ternate ke-49.

“Seorang sultan itu harus lahir dari ayah seorang  Kolano dan dari ibu seorang Boki, baru akan didukung oleh balakusu se kano-kano,” tegas Ilyas.

Konfrensi pers perangkat adat Kesultanan Ternate

Ilyas menjelaskan bahwa seorang sultan harus diangkat berdasarkan Jaib dari sultan sebelumnya dan kemudian melalui prosesi khalifat, bukan melantik dirinya sendiri seperti yang terjadi di Kadaton Salero beberapa waktu lalu.

Selain itu, Ilyas menambahkan bahwa Kolano Ternate harus mendapat dukungan dari dua klan utama yaitu Cim dan Heku sebagai balakusu se kano-kano, tanpa dukungan balakusu se kano-kano maka seorang sultan tidak bisa bertahta sebagaimana filosofi Bira Dada (Nasi Kuning) dengan telur.

Sementara itu, Syarif Tabaika selaku Fanyira Kadaton menegaskan bahwa Kesultanan Ternate tidak ada versi lain, yang ada hanya menjalankan wasiat mendiang Sultan Mudaffar Sjah.

“Kesultanan Ternate ini tidak ada versi, yang ada saat ini adalah menjalankan amanah dan wasiat mendiang Sultan Mudaffar Sjah,” tutupnya.

Reporter: Yus